Batas Dunia

Ragu menoleh ketika Pagi menyapa. Takut membuka pintu ketika Siang mengetuk.
Malam membelenggu dan menghantuiku.

“Tinggal lah. Bukankah kamu senang berada disini? Tidak ada kesendirian, ketakutan, dan ketidakpastian. Hanya ada selimut hangat dan ketenangan, seperti yang kamu inginkan.”

Dan ketika aku berada di batas dunia, Malam menang atas diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s